Wali Kota Banjarmasin Desak Penanganan Terintegrasi Lintas Daerah untuk Atasi Banjir Sungai Lulut

Wali Kota Banjarmasin Desak Penanganan Terintegrasi Lintas Daerah untuk Atasi Banjir Sungai Lulut

Banjir yang rutin melanda Banjarmasin khususnya wilayah Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, harus diselesaikan melalui pendekatan terpadu lintas daerah. Permasalahan genangan di wilayah perbatasan ini, tidak efektif jika hanya ditangani sepihak oleh satu pemerintah daerah saja.

Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR, tidak luput dalam kegiatan rutin nya ketika meninjau langsung kondisi warga yang terdampak banjir di RT 08 RW 01 Sungai Lulut Dalam pada Sabtu (03/01/2026). Dalam kunjungannya, ia menjelaskan bahwa Sungai Lulut memiliki setidaknya lima alur sungai yang saling terhubung dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Banjar, sehingga solusi penanggulangan harus dilakukan secara kolektif.

Genangan di lokasi tersebut, yang mencapai ketinggian antara 40 hingga 55 sentimeter, diakibatkan kombinasi curah hujan tinggi dan fenomena air pasang sungai. Kondisi ini menempatkan Sungai Lulut sebagai titik paling rentan terhadap limpasan banjir kiriman dari kawasan hulu Martapura.

Didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Neli Listriani, jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta unsur kecamatan, Wali Kota memastikan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Sebagai langkah darurat, sebuah musala yang berada di posisi lebih tinggi dimanfaatkan sebagai lokasi evakuasi. BPBD Kota Banjarmasin juga telah mengevakuasi 15 Kepala Keluarga atau 39 jiwa ke tempat aman, menyalurkan bantuan logistik, dan merencanakan pendirian dapur umum.

Untuk mitigasi jangka panjang, Yamin menekankan pentingnya normalisasi dan revitalisasi sungai yang terencana. Program ini diinstruksikan agar dilaksanakan secara optimal pada musim kemarau.

Ia juga mendorong pembangunan infrastruktur drainase multifungsi yang berbentuk tertutup. Sistem drainase ini diharapkan tidak hanya berfungsi melancarkan aliran air, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai akses mobilitas bagi warga.

Selain upaya struktural pemerintah, Yamin mengingatkan bahwa peran serta masyarakat sangat krusial, khususnya dalam menjaga fungsi sempadan sungai. Ia memperingatkan, penyempitan alur sungai akibat perluasan bangunan akan menimbulkan dampak negatif bersama, sehingga kolaborasi antara pemerintah kota dan warga harus terjalin.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin, Husni Thamrin, menjelaskan bahwa Sungai Lulut merupakan wilayah garda terdepan yang paling awal menerima limpasan banjir dari daerah hulu. Ia memprediksi, limpasan air dari Martapura ini berpotensi berdampak hingga kawasan Pemurus Baru dan Jalan Pramuka.

Menurut Husni, solusi struktural bagi Sungai Lulut menuntut kerja sama lintas sektoral dan lintas daerah melalui forum Banjar Bakula. Forum ini melibatkan penanganan bencana yang terintegrasi dengan Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Tanah Laut, dan Barito Kuala.

Husni menambahkan, Wali Kota telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Wilayah III untuk memfokuskan perhatian pada sungai-sungai langganan banjir, termasuk Sungai Lulut. Strategi penanganan ke depan diarahkan pada perencanaan matang dan pelaksanaan normalisasi serta pembenahan drainase saat musim kemarau, demi memastikan kesiapsiagaan di musim hujan menjadi lebih optimal.